Focus Group Discussion

Focus Group Discussion

"Merumuskan Strategi Kolaborasi Multipihak Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso"

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Pada saat ini, kondisi DAS Rejoso mengalami degradasi yang disebabkan oleh interaksi berbagai faktor dalam proses pembangunan yang dilaksanakan. Hal ini terlihat dari menurunnya daya dukung dan daya tampung ekosistem DAS Rejoso. Hal ini tercermin dari meningkatnya intensitas banjir, erosi, dan tanah longsor pada beberapa tahun terakhir ini. Beragam faktor ditengarai menjadi penyebab, diantaranya aktivitas pertanian, pertambangan, dan meningkatnya jumlah sumur artesis.

Pengelolaan DAS Rejoso harus dilaksanakan secara utuh dari hulu sampai hilir secara terpadu sebagai satu kesatuan ekosistem. Dalam sistem pengelolaan dan pelestarian melibatkan para pemangku kepentingan, terkoordinasi, menyeluruh dan berkelanjutan.

Hal ini dikemukakan dalam pertemuan para pihak yang digelar hari ini (28/03/18) oleh Yayasan Social Investment Indonesia (SII) di RM. Kebon Pring Pasuruan. Hadir dalam acara tersebut  Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, PDAB Jawa Timur BPDASHL Brantas Sampean, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sektor swasta dan Penggiat Lingkungan. Forum Group Discussion ini dibuka oleh Gerakan Rejoso Kita yang diwakili Direktur Eksekutif Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) Pitono Nugroho “saya yakin gerakan ini akan sustainable jika didukung oleh semua pihak khususnya oleh pemerintah”.

Haris Miftakhul Fajar, ST, M.Eng (Peneliti Universitas Gadjah Mada) memaparkan tentang siklus air yang merupakan sistem tertutup sehingga bisa dihitung jumlahnya. 97% air di bumi merupakan air laut, 3% merupakan air tawar. Dari 3%  2% berupa gletser, 1% yang bisa digunakan langsung oleh manusia dimana hanya 0,5% yang bisa dieksploitasi oleh manusia) sehingga kita perlu menjaga kelestarian sumber daya air, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Saat ini tim UM (Universitas Montpellier) sedang melakukan pengukuran Water Balance (keseimbangan neraca air) dengan memasang alat dan sensor di beberapa titik sebagai bekal dasar guna menganalisa bagaimana karakteristik air di DAS Rejoso”, ujar Haris.

Musmin Nuryandi (Gerakan REJOSOKITA) menjelaskan tentang Progress dan Update Kegiatan Gerakan REJOSOKITA yang telah dilakukan sekitar 2 tahun ini ”Gerakan REJOSOKITA diinisiasi pada Oktober 2016, dengan beberapa lembaga yang terlibat (Universitas Brawijaya, UGM-UM, CKNet, Yayasan Social Investment Indonesia, World Agroforestry Centre, TNC) dan untuk saat ini Gerakan REJOSOKITA sedang mengimplementasikan PES atau Pembayaran Jasa Lingkungan di klater atas dan tengah DAS Rejoso yang melibatkan 174 petani (13 kelompok tani dalam tujuh desa) dengan total luas lahan 106,6 Ha dengan penerima manfaat sebanyak 1188 orang.”ungkap Musmin.

Dr. Ir. Gunawan Wibisono, Dipl. SE (Pakar Hidrologi, CKNet-INA) mengatakan “ krisis air menjadi masalah serius di seluruh dunia, banyak organisasi yang yang sudah melakukan mitigasi resiko dari semua organisasi ini memiliki data-data yang lengkap namun sangat disayangkan data-data tersebut belum tersampaikan kepada publik. Maka dari itu perlu dibentuk sebuah institusi yang nantinya mampu menyampaikan data dan mengimplementasikannya”.

Gerakan Rejoso Kita harus terus menerus mengajak sebanyak mungkin pihak untuk turut bergabung dalam pengelolaan dan pelestarian DAS Rejoso. Kemudian membentuk kelembagaan yang nantinya dinaungi oleh SK Bupati atau SK Gubernur. Gerakan REJOSOKITA merupakan program yang mulia dalam melestarikan air maka jangan sampai meninggalkan air mata untuk anak-cucu, tetapi tinggalkanlah mata air” tegas Eko Prasetyo (Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur)

H. Haryanto, Pegiat Lingkungan, mengatakan untuk kelembagaan Gerakan REJOSOKITA yang nanti akan dibentuk harus memiliki gaung sehingga mampu mempengaruhi kebijakan yang ada dan mampu memanfaatkan potensi yang ada.

 “Saya meminta untuk pertemuan berikut diundang dinas perhutani karena lahan perhutani banyak yang gundul, dinas pertanian Pertanian dan Perkebunan karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi pertanian dan penanaman rumput untuk peternakan”.tegas Abah Mahrus Sholihin, Pegiat Lingkungan.

Berita Terkait

ITS dan Gerakan #RejosoKita diskusikan Pengelolaan DAS Rejoso untuk Pembangunan yang Berkelanjutan

Surabaya-28 September 2018. Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya sebagai mitra Gerakan #RejosoKita menyelenggarakan acara Focus Group Discussion (FGD)  yang bertajuk “Menuju pengelolaanRead More

Seminar Menuju Pengelolaan DAS Rejoso terpadu Melalui Kolaborasi Multipihak

Gerakan RejosoKita melibatkan beragam pemangku kepentingan dalam upaya mewujudkan DAS Rejoso yang lestari

Pasuruan, 1 Agustus 2018. Sebagai upaya mewujudkan Pengelolaan DAS Rejoso secaraRead More

FGD "Pembentukan Struktur Forum Peduli DAS Rejoso

Kamis, 12 Juli 2018, Bertempat di aula rapat Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Sidoarjo, para pemangku kepentingan dari berbagai sektor baik dari sektor pemerintah, sektor swastaRead More

No Comments

Tuliskan Komentar