Mengembalikan Daya Dukung dan Fungsi DAS Rejoso

Oleh: Fajar Kurniawan dan Jalal, Yayasan Social Investment Indonesia

Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso merupakan salah satu DAS di Kabupaten Pasuruan yang dikelola oleh Badan Pengelola DAS (BP DAS) Brantas. Dengan panjang DAS sekitar 22 km, DAS Rejoso memainkan peranan penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat di lebih dari 10 kecamatan di Pasuruan bagian timur, seperti Kecamatan Tosari, Puspo, Pasrepan, Lumbang, Grati, Gondangwetan, Winongan, Rejoso, Lekok dan Nguling. Saat ini, DAS Rejoso menjadi salah satu DAS prioritas untuk dipulihkan fungsinya, mengingat besarnya ancaman yang dihadapi DAS Rejoso, baik di bagian hulu, tengah maupun hilir. Berbagai permasalahan melingkupi DAS ini seperti maraknya alih fungsi lahan di bagian hulu untuk pertanian dan pemukiman, praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan, tingginya tingkat erosi, eksploitasi sumberdaya air yang ekstensif—baik air permukaan maupun air bawah tanah (ground water)—pertumbuhan penduduk yang tinggi di bagian hilir, tingginya tingkat pencemaran sumber air maupun sungai serta adanya bencana banjir tahunan yang melanda daerah hilir. Menurut studi yang dilakukan oleh Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) pada tahun 2016 diperoleh 10 isu strategis terkait dengan DAS Rejoso yaitu bencana alam, penurunan debit air, rendahnya aktivitas konservasi, lahan kritis, pencemaran sungai, penambangan batu dan pasir, sedimentasi atau pendangkalan sungai, distribusi air yang tidak merata, tumpang tindih kebijakan provinsi dan kabupaten, serta aktivitas budidaya pertanian yang tidak pro-konservasi. Di samping itu, beberapa fakta ilmiah yang diperoleh dari berbagai studi juga menunjukkan adanya penurunan daya dukung dan fungsi DAS Rejoso, khususnya pada beberapa mata air utama yang ada di DAS Rejoso. Hasil studi UPT PSDA Pasuruan (2014) menunjukkan bahwa dalam kurun tujuh tahun terakhir telah terjadi penurunan debit pada mata air Umbulan—salah satu mata air utama DAS Rejoso—dari sekitar 4000 l/detik di tahun 2007 menjadi 3200 l/detik di tahun 2014. Sementara di bagian hulu, perubahan tata guna dan tutupan lahan juga sangat signifikan. Hasil analisis yang dilakukan oleh ICRAF (2016) menunjukkan perubahan tata guna lahan dari tahun 1990 sampai dengan 2015. Kondisi ini menyebabkan daya dukung dan fungsi DAS Rejoso mengalami penuruan dari waktu ke waktu. Pada titik tertentu, penurunan daya dukung dan fungsinya dapat mengancam keberlangsungan hidup bagi ekosistem di sepanjang DAS Rejoso.

 

Restorasi dan Konservasi

 


Berdasarkan pada kondisi di atas, maka upaya pemulihan (restorasi) dan konservasi di wilayah DAS Rejoso menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan. Melalui proses pemulihan dan konservasi diharapkan fungsi-fungsi dan daya dukung DAS dapat ditingkatkan kembali, sehingga dapat menjaga keberlanjutan ekosistem di sekitarnya. Upaya restorasi dan konservasi memerlukan sinergi dari semua sektor, baik sektor publik, swasta maupun masyarakat, untuk melakukan inisiatif strategis tersebut. Tanpa peran serta seluruh sektor upaya tersebut sulit untuk dicapai. Masing-masing sector

dapat berkontribusi sesuai dengan wewenang dan sumberdaya yang dimiliki. Sebagai contoh, sektor public dapat berkontribusi dengan memastikan adanya peraturan, kebijakan dan penegakan hukum yang memadai dan konsisten untuk memastikan arah pengelolaan DAS Rejoso dalam jangka panjang. Selain itu, harus dipastikan adanya sinkronisasi kebijakan—di tingkat pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat—menyangkut kebijakan tata ruang, tata guna lahan, pembagian kewenangan antar instansi, dan lainnya. Sektor swasta juga dapat mengambil peran dengan melakukan efisiensi penggunaan sumberdaya air dan mengintegrasikannya dalam strategi bisnis mereka, melakukan berbagai inisiatif untuk konservasi sumberdaya air secara mandiri maupun kolektif, mendukung kampanye untuk efisiensi penggunaan dan konservasi sumberdaya air, memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok masyarakat—termasuk organisasi non pemerintah—yang aktif melakukan upaya konservasi sumberdaya hutan dan air untuk meningkatkan skala dan dampak programnya, melalui inisiatif Corporate Service Responsibility (CSR) termasuk investasi sosial bersama (co- social investment). Di sisi kelompok masyarakat, upaya penyadaran ke tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan tokoh dari beragam pemangku kepentingan sangatlah diperlukan. Keberadaan tokoh-tokoh lokal (local champions) yang mempunyai kesadaran mengenai permasalahan yang dihadapi DAS Rejoso saat ini sekaligus alternatif jalan keluar yang seharusnya ditempuh akan sangat membantu dalam proses penyadaran kolektif, baik di tingkat komunitas maupun di tingkat bentang alam DAS Rejoso.

Pemetaan pemangku kepentingan sebagai langkah awal pemulihan DAS Rejoso


Pada tahun 2016, YSII – sebagai salah satu LSM yang mempunyai kepedulian dalam isu keberlanjutan sosial dan lingkungan – melakukan pemetaan pemangku kepentingan dan isu strategis yang terkait dengan DAS Rejoso. Tujuan utama dari proses pemetaan pemangku kepentingan tersebut adalah mengidentifikasi aktor- aktor kunci yang mempunyai pengaruh an relevansi yang tinggi untuk terlibat dalam penyelesaian masalah DAS Rejoso, baik instansi atau pejabat pemerintahan, sektor swasta, kelompok masyarakat, media massa, akademisi, LSM, dan tokoh-tokoh masyarakat yang menonjol lainnya. Hal itu dilakukan agar bisa dibuat strategi pembinaan hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholder engagement strategy) yang relevan. Sementara kalangan akademisi dan praktisi pengelolaan sumberdaya air yang tergabung dalam CK-Net (Collaborative Knowledge Network) yang sejak lama menaruh perhatian pada DAS Rejoso tak henti melakukan proses penyadaran kepada instansi pemerintah, pejabat publik, tokoh masyarakat dan kalangan media. Selain itu juga mengembangan beberapa pilot project pengelolaan sumberdaya air yang lestari, seperti membangun sumur resapan & biopori, pembangunan bana buatan (wetland) dan konservasi di daerah tangkapan air. Selain YSII dan CK-Net, saat ini,  ICRAF – sebuah lembaga riset yang mendedikasikan diri untuk menghasilkan dan menerapkan pengetahuan terbaik untuk mendorong pengembangan pertanian, peningkatan pendapatan petani sekaligus pelestarian lingkungan –saat ini sedang melakukan serangkaian studi data dasar mengenai karakteristik DAS Rejoso. Serangkaian studi tersebut diharapkan akan memperkuat rekomendasi untuk intervensi konservasi dan restorasi yang mungkin dilakukan di DAS Rejoso. Kolaborasi kelompok yang mempunyai kepedulian atas situasi DAS Rejoso tersebut ke depan telah mempunyai komitmen untuk mentransformasikan diri menjadi kelompok yang akan mengkampanyekan pentingnya melakukan penyelamatan DAS Rejoso. Kampanye tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran dari berbagai kelompok pemangku kepentingan, untuk secara kolektif bergerak bersama menyelamatkan ekosistem Rejoso.

Berita Terkait

Seruan Pelestarian Air Berbasis Alam

Oleh: Lilik Sugirahayu - Pegiat Lingkungan RejosoKita

Hari Air seduni yang jatuh pada 22 Maret menjadi peringatan hari air ke-25, setelah ditetapkan Majelis Umum PBB pada tahun 1993.Read More

No Comments

Tuliskan Komentar